kristus meraja dari salib

Meraja Dari Salib

Minggu, 23 November 2025, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam Tahun C
Bacaan: 2Sam. 5:1-3Mzm. 122:1-2,4-5Kol. 1:12-20Luk. 23:35-43.

“Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23: 42)

Hari ini adalah Hari Minggu Biasa ke-34 dalam Kalender Gereja, Minggu terakhir dalam masa biasa. Minggu depan sudah kita masuki Minggu Advent yang pertama dan kita masuki Kalender Liturgi yang baru. Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Ketika itu perayaannya selalu jatuh pada Minggu terakhir bulan Oktober, menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus. Penetapan ini ditegaskan dengan Ensiklik Quas Primas. Salah satu tujuan penetapan ini adalah menentang atheisme dan sekularisme dengan menegaskan bahwa Kristus lebih tinggi dari segala kekuatan dunia. Sejak 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan: Kristus lebih bercorak kosmis dan eskatologis. Oleh karena itu penempatan tanggalnya pun berubah menjadi Hari Minggu Biasa XXXIV atau satu minggu sebelum Adventus. Dengan penetapan ini, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam menandai dua momentum sekaligus yakni akhir tahun liturgi dan awal tahun liturgi gereja. Hal ini menegaskan bahwa Kristuslah Alfa dan Omega, awal dan akhir.

Ketika anda membayangkan seorang raja, apa yang ada di benak anda? Kemungkinan besar baju atau jubah yang mahal, mahkota, tahta, para pengawal, tentara, dan sekeliling yang mewah. Namun Injil membawa kita ke Kalvari — ke sebuah adegan yang mungkin tampak seperti kekalahan, tetapi pada kenyataannya, inilah saat kemenangan terbesar Kristus. Takhta-Nya adalah salib. Mahkota-Nya terbuat dari duri. Jubah kerajaan-Nya adalah jubah ejekan. Namun, di sinilah kita melihat seperti apa kerajaan sejati itu.

Orang-orang berdiri menonton. Para penguasa mengejek, prajurit-prajurit menghina, dan di atas kepala Yesus tergantung sebuah papan tulisan: “Inilah Raja orang Yahudi.” Mereka bermaksud menghina, tetapi hal itu mengungkapkan kebenaran yang paling dalam. Dia memang seorang Raja — bukan jenis raja yang dunia harapkan, tetapi Raja yang berkuasa dengan mencintai, dengan mengampuni, dengan memberikan hidup-Nya sepenuhnya.

Sejak awal misinya, Yesus digoda untuk menjadi raja yang berbeda — seorang yang akan mendominasi, menaklukkan, dan membuat orang lain melayani-Nya. Iblis berbisik: “Ambil kekuasaan untuk dirimu sendiri. Bangun kerajaanmu atas dasar ketakutan dan kendali.” Tetapi Yesus menolak. Kerajaan-Nya tidak akan dibangun dengan kekerasan atau kesombongan, tetapi dengan cinta dan belas kasihan.

Dan kini, saat Ia tergantung di salib, godaan yang sama kembali. “Selamatkan dirimu!” mereka berteriak. “Jika Engkau Raja, turunlah!” Kata-kata itu menggema sebagai kebohongan lama — bahwa kekuasaan harus dibuktikan dengan kekuatan, bahwa kemenangan berarti penyelamatan diri. Tetapi Yesus tidak akan menyelamatkan diri-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan kita. Kerajaan-Nya bukan tentang diri-Nya, tetapi tentang orang lain.

Di sisi-Nya ada dua penjahat — satu mengejek-Nya, yang lain berdoa: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Doa itu adalah inti iman. Orang yang sekarat itu melihat, di tengah kegelapan dan penderitaan, sifat sejati kerajaan Kristus. Dan Yesus menjawab dengan kata-kata yang masih berlaku dan menghibur kita hari ini: “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Di sini, di kaki salib, kita melihat macam Raja yang kita miliki — seorang Raja yang tidak menghancurkan musuhnya tetapi mengampuni mereka, yang tidak memerintah dengan pasukan tetapi dengan tangan terbuka. Takhtanya tidak dibangun atas emas atau kemuliaan, tetapi atas cinta yang bertahan bahkan melalui kematian. 

Saudara-saudari, merayakan Kristus Raja berarti bertanya pada diri kita sendiri: kerajaan mana yang kita miliki? Kerajaan kekuasaan, kesombongan, dan ketakutan — atau kerajaan belas kasihan, kebenaran, dan rahmat? 

Kristus berkuasa di mana pun cinta mengalahkan kebencian, di mana pun pengampunan lebih kuat dari balas dendam, di mana pun orang miskin diangkat dan yang terluka disembuhkan. Inilah pemerintahan Allah yang dimulai kini dan di sini — dalam setiap tindakan kasih, setiap gestur damai, setiap momen belas kasihan. 

Jadi hari ini, marilah kita memandang Salib — dan melihat Raja kita. Dia yang memerintah bukan dengan kekuatan, tetapi dengan belas kasihan. Dia yang berkuasa bukan dari takhta emas, tetapi dari hati yang tak pernah berhenti mencintai.

Tuhan Yesus, jadikanlah kami umat yang membawa kehangatan keadilan dan kasih-Mu kepada semua orang di bumi ini, agar Kerajaan-Mu bertumbuh di tengah-tengah kami sekarang dan selamanya. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *